Falasi

FALASI (fallacy) adalah kesalahan berpikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan dalam menyusun argumen; bisa terjadi pada pendefinisian, penggunaan premis, penggunaan data, penarikan kesimpulan, dan semua aspek logika lainnya.

Falasi terkadang mengantarkan kepada kesimpulan yang benar. Akan tetapi, seandainya itu terjadi, hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan.

Jenis-Jenis Falasi:

Argumentum ad hominem

Argumentum ad hominem, yaitu membantah argumen seseorang dengan menyerang personalitas orang tersebut, bukan menyerang argumennya.

Contoh:

A: Bashar Assad itu bukan pemimpin sempurna, tapi dalam konflik ini, dia ada dalam posisi sebagai presiden yang sah yang negaranya sedang diperangi oleh milisi bersenjata yang dibiayai AS, Inggris, Perancis, Saudi, Qatar, dll.

Secara de facto, dia diserang dan diperangi pihak asing dan serangan ini adalah pelanggaran hukum internasional. Dalam perspektif realis, Assad berhak melawan invasi asing demi mempertahankan pemerintahannya.

B: Anda berkata demikian karena Anda Syiah!

Argumentum ad verecundiam

Argumentum ad verecundiam, yaitu berargumen dengan berlindung di balik kredibilitas orang atau menganggap semua perkataan orang yang dianggap kredibel pasti benar, padahal:

  • Kebenaran materialnya harus dibuktikan dulu
  • Kredibilitas seseorang harus relevan dengan pernyataannya

Contoh:

A: Bumi itu datar.
B: Apa argumennya?
A: Yang bilang Bapak A! Dia itu profesor, lho! Masa kamu ga percaya??

Pertama, kita menyimpulkan bahwa bumi itu bulat atau datar harus berdasarkan argumen & bukti, bukan semata-mata ‘kata profesor’.

Kedua, kalaupun mau ‘bertaklid’ pada profesor (karena tidak mungkin bagi kita untuk meneliti hingga detil seluruh fenomena di alam semesta), perlu dilihat, apakah Bapak A profesor di bidang astronomi (relevan dengan topik yang dibahas), atau bidang lain?

Argumentum ad baculum

Argumentum ad baculum, yaitu berargumentasi dengan didasarkan pada kemungkinan buruk/ancaman bila sesuatu itu terjadi (atau tidak terjadi).

Contoh:

“Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir adalah sebuah solusi yang terbaik bagi Indonesia, karena jika khilafah tidak ditegakkan moral rakyat Indonesia akan semakin terpuruk dan kemaksiatan merajalela. Lihat saja, penderita AIDS di Indonesia semakin hari semakin meningkat, itu karena kita tidak memakai sistem khilafah!”

Fallacy non causa pro causa

Fallacy non causa pro causa, yaitu berargumentasi secara keliru karena penyebutan ‘sebab’ yang tidak tepat (karena betul-betul bukan sebab, atau menyebut ‘akibat’ sebagai ‘sebab’, atau menyebut hanya 1 sebab padahal ada beberapa sebab).

Contoh:

Iran menjadi sumber ketidakstabilan di Timteng karena mensponsori Al Qaida [Iran tidak mensponsori Al Qaida]

Hosni Mobarak jatuh karena tidak disukai lagi oleh AS. [padahal ada banyak faktor: dia korup, melanggar HAM, gelombang demokratisasi, kesulitan ekonomi rakyat, krisis pangan global, pengaruh media sosial, dll]

Argumentum ad Misericondiam

Argumentum ad Misericondiam, yaitu berargumentasi dengan membangkitkan belas kasihan/sentimental.

Contoh:

A: Kita harus membantu rakyat Suriah! Mereka ditindas oleh rezim Bashar Assad laknatulloh!
B: Apa buktinya mereka ditindas?
A: Lho kamu tidak lihat, mereka saat ini tinggal di pengungsian, kelaparan, kedinginan. Itu karena lari dari penindasan setan Assad! Kasian sekali mereka! Ini liat, ada fotonya, anak-anak kurus kering kelaparan. Ayo kita infakkan sebagian harta kita untuk membantu mereka!